Pergi Ku Sedih

Entah mau mulai dari mana, sesak dada terasa. Kaki berat tak mau melangkah. Ku tahan air mata agar tak jatuh ke pipi saat ku harus pergi meninggalkanmu.

Kuraih wajahmu, terlihat begitu sedih dan lesu yg dipipinya dialiri air matamu.

Ku cium keningmu dan ku usap pundakmu tanda bahwa sebentar lagi ku akan pergi, iya, sebentar lagi.

17 July 2017

Iklan

Masih Seputar Kapal Pesiar

Saya harus menunda nunda hingga beberapa hari bahkan minggu untuk memulai tulisan ini. Kemarin kemarin selalu saja nunda, karena terlalu capek setelah seharian kerja, jadi waktu istrahat saya gunakan semaksimal mungkin untuk ibadah, makan, tidur, kalau masih ada waktu sedikit, saya juga sempatkan untuk main game. Di sini saya sering tidak mandi sampai 2 hari. Anyway, Sebelum saya mulai mengantuk, mari kita mulai saja.
Ini adalah kontrak ke dua saya bekerja di kapal pesiar. Pengalaman kontrak pertama saya di kapal pesiar sudah saya share di tulisan tulisan saya sebelumnya. Hari ini, tepat tulisan ini saya dibuat, saya sudah berada dan bekerja di kapal selama 4 bulan 3 hari, artinya saya masih punya kurang lebih 4 bulan 27 hari days to go. Nah, selama 4 bulan ini, saya mau bagi cerita cerita seru, sedih, dan inspiratif.
Mari kita mulai kisahnya dari sejak saya meninggalkan rumah.
13 July 2016 saya meninggalkan rumah. Ditemani oleh beberapa keluarga, saya diantar menuju Makassar. Sedih juga rasanya meninggalkan mereka untuk kedua kalinya. Selain meninggalkan keluarga, saya juga meninggalkan seseorang yang ku titipkan rindu padanya, hehehe (telah dibahas di edisi lain).
15 July 2016 saya menuju ke airport yang diantar oleh teman, yang entah dia rela namanya disebut di sini apa tidak. Namanya Apri, alisnya tebal tanpa pensil. Saya dijemput di kost an sepupuku sekitar 10 pagi. Karena kondisi jalanan menuju bandara lagi macet total, saya yang nyetir mobilnya. Entah karena saya lupa baca doa atau bagaimana, di perempatan sebelum masuk Bandara, ada polisi yang tiba tiba berhentiin mobil dan saya disuruh menepi. “Selamat siang Pak, Anda menerobos lampu merah, boleh saya lihat STNK sama SIMnya?”. Akhirnya setelah ngomong panjang lebar, dan mengingat flight time nya sudah mepet saya harus mengeluarkan beberapa lembar uang agar bisa terus melanjutkan perjalanan. Huft huft
IMG20160714110658
(Apri yang selalu tersenyum walau sering tersakiti. Heheheh)

Penerbanganku cukup lancar, tak ada halangan yang begitu rumit, semua bisa diatasi dengan mudah. Tidak seperti keberangkatan pertamaku kontrak lalu yang super duper ribet. Bayangin saja, baru tiba di Jakarta, saya harus berkelahi sama pencopet gara gara HP di saku saya mau diambil. Untung pas tangannya baru masuk setengah, keburu saya liat. Langsung saya hajar mukanya pake jurusnya Paul Tekken, untung dilerai sama penumpang bus lain. Kalau tidak bisa bonyok tuh pencopet.
Pas tiba di LA, Luggagenya hilang, jadi saya harus urus sini urus sana, ngomong ini ngomong itu sama petugas bandara dengan kemampuan bahasa inggris yang masih minim.
*skip*
Jadi flightnya Makassar – Jakarta – Abu Dhaby – Chicago.
Setiba di Abu Dhaby,saya menunggu beberapa jam sebelum menuju ke Chicago. Sambil nunggu, saya sempat keliling Bandara sambil lihat kiri kanan. Bandaranya bersih, orang orangnya berbusana khas timur tengah, adem banget litanya.
IMG20160715104054
Di Chicago, saya sempat selfie

*Skip skip*
Di bandara ini, kami dijemput oleh pihak Holiday Inn Hotel Orlando untuk dibawa ke penginapan. Di LoE (Letter of Employment) saya dijadwalkan join di Carnival Magic pada tanggal 16 July. Tapi setelah saya check ulang, jadwalnya berubah, saya join di Carnival Breeze 17 July.
Section Open Deck
Ketika tiba di kapal, saya langsung mendapatkan area kerja di open deck, tepatnya di serenity, dimana biasa tamu tamu berjemur dan berendam air panas. Jadi tugas saya itu membagikan towel ke tamu sambil melihat bule bule yang lagi berjemur :D. Sebulan lebih saya ditempatkan di sana. Kulit jadi gelap akibat sinar matahari, karena tempatnya merupakan deck teratas di kapal. Di sana saya bertemu dengan seorang bar waiter, namanya Luis, seorang crew dari Peru. Dia bertugas di serenity, bedanya dia hanya bertugas menjual minuman minuman untuk tamu. Pendapatannya rata rata per bulannya mencapai $3.000 kalau dirupiahkan itu bisa mencapai Rp 39.000.000 (kurs Rp 13.000) hanya dalam satu bulan. Dibandingkan gaji saya hanya $585/month, jauh di bawah. Kami sering ngobrol, terutama membahas rencana rencana apa yang akan dia lakukan setelah pensiun di kapal.
Saya salut sekali sama dia. Dia memulai bekerja di kapal sebagai Galey Steward tahun 2010, ketika ia baru berusia 21 tahun. Kontrak kerja ke dua ia dapat promosi mejadi bar waiter. Uang yang ia dapat selama satu kontrak ia selalu investasikan. Tiap kali ia pulang vacation, ia membeli sesuatu untuk diinvestasikan. Kontrak pertama ia beli tanah, kontrak ke dua masih beli tanah, kontrak ketiga ia sudah muali beli bahan bangunan untuk pembuatan restaurant, kontrak ke empat, ia mulai membangun sedikit demi sedikt, hingga kontrak ke enamnya, restaurannya sudah jadi, dengan kapasitas 100 meja, namun ia belum operasikan karena ia belum mempunyai dana untuk membayar pekerjanya. Jadi kontrak ini ia kumpulkan sebagai dana awal untuk membayar pekerjanya.
Dia pernah bilang begini ke saya, “sampai kapan kamu mau kerja terus sama seseorang?”. Betul juga perkataannya. Dia juga sarankan untuk tidak boros, beli ini beli itu. Lebih baik uangnya dipakai untuk membangun sesuatu yang digunakan berusaha di masa depan. Salut sama dia.

* * *
Suatu hari teman saya yang shift malam bertemu dengan salah satu tamu dari Indonesia, tepatnya warga negara Amerika yang berasal dari Indonesia. Terus ditanya Tanya lah Bapak itu. “Bapak sudah lama tinggal di Amerika?”. “Sudah lumayan lama dek”, jawabnya. Bapak itu mengungkapkan alasannya kenapa dia bersama dengan keluarganya lebih memilih tinggal dan menjadi warga negara Amerika dibanding Indonesia adalah karena ia masih ingin hidup lebih lama. Alasannya membuat kami bingung. Terus Bapak itu lanjut lagi. “Begini loh dek, adek pernah datang ke rumah sakit? Rumah sakit manapun?”. “iya pak”, jawab kami singkat. “nah ketika salah seorang dari keluarga mereka sakit parah dan tak kunjung sembuh, orang orang yang paling risau adalah keluarga dekatnya, dan itu sudah pasti, iya kan? Kalau di Amerika, kalau kamu sakit dan tak kunjung sembuh, yang paling risau itu adalah dokternya”.

* * *
Karena gaji yang saya terima dari posisi saya sebagai Hotel steward masih belum memuaskan, maka saya mencoba untuk pindah posisi ke Photo Department dengan harapan bisa diterima dan mendapatkan gaji dua kali lipat dari gaji yang saya terima sekarang. Semua berkas saya sudah persiapkan sebelumnya, jadi saat menghadap ke HRD, HRDnya bilang, “wow, well prepared”. Saat berkas saya sudah diterima, saya harus menjalani 3 kali interview dengan 3 orang yang berbeda posisi. Pertama, saya diinterview oleh HRD sendiri seputar alasan alasan mengapa ingin pindah. Kedua, oleh Manager Photography, saya ditanya seputar pengalaman pengalaman di dunia photography. Dan yang terakhir, Photo Trainer yang datang langsung dari Mexico yang menanyakan beberapa foto yang saya lampirkan sebagai bahan pertimbangan dan mngecek secara detail foto foto hasil jepretanku.
Setelah beberapa bulan menunggu, akhirnya saya mendapatkan email dari Carnival, bahwa next contract, saya akan bekerja di posisi yang berbeda, itu artinya apa, saya diterima. Alhamdulillah.
Screenshot_2017-07-16-09-17-21-07

SUPERHERO

SUPERHERO
Menarik mengingat kembali masa masa kecil yang penuh dengan imajinasi. Pernah tidak kalian semasa kecil ingin menjadi seorang superhero? Jika jawabannya tidak, mungkin masa kecil Anda kurang bahagia, kalau kata Tumming & Abu, “janganki lupa bahagia, duniaji ini”. Jika jawabnnya iya, berarti kita punya imajinasi yang sama.
Superhero seperti apa yang ingin kalian dulu inginkan?
Saya dulu ingin seperti Power Rangers, terutama yang merah. Saking inginnya, kalau ada yang mau jadi power ranger merah selain saya, kita harus berkelahi dulu. Jadi satu jam sebelum filmnya dimulai, kita sudah mantap duduk di depan TV. Adegan adegan penyelamatan, rela menolong, membela kebenaran, hal hal itulah yang membuat saya ingin menjadi seperti mereka. Namun seiring bertambahnya usia, semakin memudar pula keinginan saya untuk menjadi superhero. Mungkin karena masih banyak hal yang lain yang lebih penting dari sekedar berimajinasi menjadi superhero.
Ngomong ngomong tentang superhero, beberapa hari lalu, saya baru saja dianugerahi penghargaan HERO of THE MONTH dari perusahaan tempat saya bekerja. Jadi ceritanya seperti ini.
Sore itu, sekitar pukul 04.10 PM, saya ditugaskan diarea sekitar main pool kapal. Tugasnya kan menjaga kebersihan, kerapihan, serta hal hal yang membuat tamu merasa nyaman di area itu.Tiba tiba ada seorang tamu berdiri dan berteriak sambil menunjuk kearah kolam. ‘Help help, somebody need help inside the pool!” Ku arahkan pandanganku ke kolam, terlihat seorang anak kecil berusia sekitar 6 tahun berusaha untuk tidak tenggelam dengan mengepak ngepakkan tangannya di air. Entah darimana suara itu muncul, terdengar di kepalaku, mungkin ini saatnya saya bisa menjadi superhero. Rela menolong tanpa pamrih. Dengan sigap, saya melompat tanpa peduli saya masih menggunakan seragam kerja, dan apa yang ada di saku celanaku. Kuraih badan anak itu dan ku bawa ke tepi kolam.
“Are you OK”, ku coba memastikan gadis kecil itu baik baik saja.
“Yes, I am fine”, jawab anak itu.
Setelah itu, saya keluar dari kolam itu dan terdengar tepuk tangan dari tamu tamu.
“You are doing a great job man!”, terdengar seorang tamu memberikan pujian. Saya hanya bisa tersenyum bangga. Kejadian ini saya laporkan ke supervisor saya.
“Go back to your cabin, sleep. You have done a good job and I will let the manager know”, kata supervisorku.
Kejadian ini sampai di Captain, dan malamnya saya ditelpon untuk datang diacara malam penghargaan yang selalu diadakan setiap bulan. Sebelum masuk ruangan itu, terlihat petinggi petinggi kapal berbaris dan memberi tepuk tangan yang meriah. Terasa kebanggaan tersendiri bisa menjadi bagain dari acara malam itu.
‘TAK PERLU MENJADI SEORANG SUPERHERO UNTUK BISA MEMBANTU SESAMA. ADA BANYAK ORANG DISEKELILINGMU YANG MEMBUTUHKAN ULURAN TANGAN. PERBAIKI DUNIA DENGAN MEMBANTU ORANG DI SEKITARMU. DAN MULAILAH DARI HAL KECIL’

 

 

TUNGGU SAYA ANDI’KU

14 Juli 2016
Hari ini, saya kembali meninggalkan Indonesia untuk ke dua kalinya.

3 bulan 17 hari saya menikmati liburan di kampung halaman, sudah saatnya kembali ke rutinitas sebelumnya, yaitu mencari nafkah di kapal pesiar Carnival, Amerika Serikat.

Kepergianku ini terasa berat, selain karena harus meninggalkan orang tua, keluarga, saya juga harus berpisah dengan seorang wanita yang baru saja saya kenal, namun dia mampu mengambil tempat di ruang ruang kerinduan hatiku.

Saya bertemu dengannya saat baru saja kami selesai melaksanakan ibadah sholat Idul Fitri. Saat itu saya menunggu keluarga yang lain di depan mobil. Ia kemudian lewat. Saya masih ingat dengan jelas warna putih bajunya, jilbabnya, sampai dengan kalung yang ia kenakan. Sungguh indah ciptaanMu ya Allah. Bergetar rasanya hati ini melihatnya. Ingin rasanya diri bertegur sapa, namun rasa maluku melebihi keinginanku, karena itu saya hanya diam.

Pada saat saya dan keluarga menuju ke rumah kerabat lainnya, di dalam mobil saya kemudian memberitahu Bapak saya,  yang kebetulan hanya ia yang masih berada di mobil bersama dengan saya.

“Pak, cantiknya itu anaknya Pak Mansur, ketemuka tadi di lapangan”, saya mencoba memberitahu Bapak.

“Kalau cantik kau lihat, coba dekati, datangi rumahnya, kenalan”, Bapakku memberi saran.

“Janganmi saya pak, maluka, kita mo ketemu langsung sama orang tuanya”

Bapakku diam sejenak, entah apa yang beliau coba pikirkan.

Kemudian ia bertanya,”betulanjiko sukai? Tidak boleh itu setengah setengah perasaan, harus serius. Beginimi saja, coba kau kenalmi dulu dengan baik, kalau sudah yah kau usahami cari uang dulu”. Saran beliaupun saya anggukkan.

Kamipun berdua turun dari.mobil dan bergabung dengan keluarga lainnya, tiba tiba Bapak.memulai pembicaraan, “Ma, itu anakmu maumi.menikah, ada perempuan dia suka, anaknya pak Mansur”, tiba tiba rasa opor yang sedang saya makan terasa pedas, Bapak menberitahukan keluarga yang lain, membuat heboh suasana.

Kemudian Saya hanya bisa duduk di luar rumah menunggu mereka selesai makan.
Malam harinya, tak disangka, ia bertamu ke rumah, sebenarnya ia juga masih berkerabat dengan keluarga saya, ia juga berteman dengan adik sepupu saya. Sepupu saya juga tahu kalau saya suka dia, makanya malam itu ia meminta nomor hpnya. kemudian ia kasi ke saya.

Mulailah malam itu kita berkenalan, saling telepon teleponan, BBMan bahkan rekreasi di tempat wisata barengan, senangnya hati ini.

Ia memberitahuku kalau dia sudah bercerita mengenai saya ke mamanya. Entah apa yang telah ia ceritakan, hanya ia yang tahu. Mamanya bilang, kalau memang saya serius kenapa saya tidak pernah datang ke rumahnya bersilaturahmi.

Saya pikir yang mamanya bilang itu sangat benar, jika ingin kenal dengan seseorang, kenal dulu dengan orang tuanya.

Malam harinya saya datangi rumahnya. Terasa jantung ini berdebar lebih cepat dari sebelumnya. Setiba di sana, dia sudah duduk manis menungguku. Mamanya juga berada di sana dan mempersilahkanku masuk. Mulailah kami berbincang bincang, gugup memang iya, saya gugup, namun saya membuktikan kalau saya serius.

Saya berjanji padanya, setelah kontrak kerja saya tahun ini selesai, saya akan datang bersama keluargaku ke rumahnya, karena itu saya meminta ia menunggu, dan ia menyanggupinya.

Tunggu saya Andi’ku.

Hari Yang Melelahkan

​14 July 2016
Perjalanan yang cukup melelahkan.

Dalam perjalanan menuju airport tadi, saya diantar oleh teman saya, Apri. Karena jalanan sangat macet, saya yang nyetir. 

Di perempatan lampu merah Sudiang, arah masuk Bandara, saya ditahan polisi, dengan alasan saya menerobos lampu merah. Padahal beberapa mobil di depan saya juga melakukan hal yang sama. Entah kesialan apa yang menghampiri, saya tak punya SIM A, STNK, dan.menerobos lampu merah, ditotal pelanggaran saya bisa mencapai jutaan.

Karena uang di kantong sisa 65.000, dan jadwal keberangkatan sudah mepet, langsung saja saya bayar polisinya 40.000, terus pergi.

Penerbangannya delay 20 menit artinya yang seharusnya saya berangkat jam 13.05 menjadi 13.20, dengan jarak tempuh 2 jam, saya tiba di Jakarta jam 14.20 WIB.

Setiba di Jakarta, saya segera mengambil bagasi dan check in di Etihad Airways. Saya diminta untuk menunjukkan passport dan ‘guarantee letter’ yg dimana saya belum print. Terjadilah sedikit hambatan lagi. Managernya kemudian menemuiku, ia menyuruku mengirim via email. Setelah mereka terima dan mereka print, ternyata ada kesalahan lagi. Guarantee letternya ditujukan ke Qatar Airways, bukan ke Etihad Airways. Saya harus menelpon lagi pihak agency saya untuk mengirim Guarantee Letter yang benar, kemudian saya kirim lagi ke Etihad. Sungguh melelahkan. 

Setelah semua selesai,saya menuju ke imigrasi dan langsung meuju ke pesawat. Waktu menunjukan pukul 17.30, pesawat siap berangkat menuju Abudhaby. Perjalanannya cukup ‘smooth’ alhamdulillah tak ada hambatan. Saya tiba di Bandara International Abu Dhaby pukul 22.30 waktu setempat, waktu Abu Dhaby 3 jam di belakang WIB (kalau tidak salah), berarti total waktu tempuh kurang lebih 8 jam. Bayangkan, 8 jam di pesawat.

Saya langsung menyesuaikan waktu di hp saya dengan waktu setempat agar tidak terjadi kesalahan dalam check in dan boarding. 

Saya bertemu dengan 2 orang Indonesia yg juga bekerja di Carnival Cruise Line. Beberapa saat kita bersama namun kita harus berpisah lagi dikarenakan pesawat yg kami gunakan menuju Chocago itu berbeda.

Pukul 04.00 saya melanjutkan perjalanan menuju Chicago, USA. Perjalanan ditempuh lebih dari 14 jam. Bukan waktu yang singkat, kamu hanya bisa duduk, tidur atau mendengar suara ngorok orang yang tidur di sebelahmu. Atau kamu bisa melihat pramugari yang sedang menyapamu untuk menikmati makanan yg (maaf) sangat tidak enak.

 Setibanya di Bandara Chicago, saya harus bertanya ke sana kemari. Ini pertama kali saya ke sini, dan sendiri pula. Saya juga harus melalui ‘security check poin’, dimana saya harus melewati pengecheckan super duper ketat. Laptop yang saya bawapun diperiksa dengan teliti. Hal ini dikarenakan demi keselamatan umum. 

Setelah menemukan gate K2, saya duduk dengan seganteng gantengnya sambil menunggu jadwal terbang menuju ke Orlando. Dengan menempuh perjalanan 2 jam, akhirnya tiba juga saya di Bandara Int. Orlando. Segera ku menuju ke Baggage Claim dan menanti Bus menuju ke Holiday Inn Hotel.

Setibanya di hotel, saya check in di kamar 108, ternyata di sana sudah ada roomate ku yang berasal dari India. Saya kaget ketika ia bertanya, “apa kamu orang India juga?”, dikira saya pemain film “Uttaran” kali yah.

2 Wanita 1 Hati

Seorang pelayan datang membawa pesanan minuman yang dipesan oleh Yusuf, seorang pria yang sedang bingung, bingung untuk menentukan sikapnya.
“ini pesanannya mas”, kata si pelayan yang kemudian pergi.
Diambilnya gelas itu, diaduk aduk hingga terlihat air tertumpah dari gelas hingga menetes di meja.
Pikiran si pemuda ini masih kacau. Ia bingung dengan permintaan Annisa. Sebenarnya bukan Annisa, tapi keluarga Annisa. Bagaimana tidak, permintaan Annisa sungguh berat baginya, keluarga Annisa menyetujui pernikahannya dengan Annisa dengan satu syarat, Ibunda Yusuf tak boleh hadir di pesta pernikahan mereka.
“Assalamualaikum”, sapa Annisa yang baru datang dan langsung duduk di depan Yusuf.
“Waalaikumsalam”, jawab Yusuf.
Annisa meletakkan tasnya di atas meja.
“Aku bingung Nis, permintaanmu sungguh membuatku bingung.”
“Maaf Mas. Mas kan tahu sendiri kan kalau Adek sangat menghormati Ibu, tak pernah terlintas di pikiranku mengenai ini Mas. Ini keinginan keluarga. Namun, setelah acara selesai, kita bisa tinggal bersama ibu lagi, tidak masalah.” Balas Annisa.
“Aku sungguh mencintaimu Nis, tapi kenapa harus seperti ini? Tanya Yusuf.
“itu…” Jawab Annisa dengan suara lirih.
“Itu karena Ibumu tidak mau besanan dengan tukang cuci? Bekas pembantumu dulu?” Yusuf memotong.
“Bukan itu Mas, bukan”. Jawab Annisa.
“Terus apa?”
“Maaf mas”. Tiba tiba Annisa berdiri seketika dan beranjak pergi mmeninggalkan Yusuf yang masih terlihat bingung sambil menggaruk garuk kepalanya.
Sebelum Annisa meraih gagang pintuh café itu, ia membalikkan badannya sambil berkata dengan air mata yang jatuh di pipinya, “Mas, kalau memang Mas cinta sama Nisa, silahkan pikirkan permintaan keluarga Nisa.” Kemudian ia berlari meninggalkan café itu.
Sebelum Annisa naik ke mobilnya, yusuf terlihat membuka pintu kafe dan berkata, “Baiklah Nis, beri Mas waktu untuk berfikir”.

Hari demi hari berlalu. Yusuf masih terlihat lesu di ruang kerja kantornya,
“Oiiiii” ditepuk pundaknya oleh rekan kerjanya, Adi.
“Lembur kamu? Jam segini belum pulang. Nih kopi, minum, masih anget. Kayak cinta aku ke istriku”, Tawar si Adi.
“Wuu kamu dasar. Mentang mentang pengantin baru”, sambil meraih kopi dari tangan Adi.
“Bagaimana keputusanmu mengenai permintaan keluarga Annisa?” Tanya Adi penasaran.
“Masih bingung nih Di” jawab si Yusuf.
“Saya heran dengan Annisa, dia kan wanita yang sholeh, kok permintaannya bisa seperti ini yah?”
“Ini permintaan keluarganya. Saya juga sudah terlanjur Cinta sama Annisa” Jawab Yusuf.
“Sebagai sahabat, menurutmu bagaimana Di?”
“Ini Ibumu loh, jangan sampai kamu korbanin ibumu yang sudah merawatmu dari kandungan hingga sekarang demi permintaan keluarga Annisa” jawab Adi menasehati Yusuf.

Ia pun beranjak dari tempat kerjanya bersiap pulang ke rumahnya. Masih terniang di pikirannya Nasehat dari Adi, namun di sisi lain ia sangat mencintai Annisa, wanita sholeh dengan wajah kalem diselimuti oleh jilbab syar’inya.
Ia melaju dengan kendaraanya bersama dengan kebingungan sepanjang jalan.
Kemacetan panjang yang terjadi membuat ia berhenti sejenak di sebuah masjid untuk melaksanakan sholat Istikhara.
Setelah sholat, ia menemui sang Ust yang biasa menjadi imam sekaligus pembawa kultum di masjid tersebut. Ia berniat untuk meminta solusi.
Setelah ia ceritakan permasalahannya. Sang Ust. Pun menjawab, “Ibu itu laksana surga yang Allah ciptakan untuk kita di dunia ini, janganlah kau sia siakan dan kau sakiti surga itu. Teruslah cari ridhonya. Karena ridho Allah ada pada ridho orang tua. Apalagi orang tuamu tinggal ibumu. Coba lah untuk cerita ke ibumu, mungkin saja dia ridho”.

Yusuf melanjutkan perjalanan ke rumahnya.
“Assalamualaikum, Ibu, Ibu, Ibu dimana Bu?” Yusuf masuk ke kamar Ibunya, mendapati ibunya sedang sholat.
Ia menyimpan tasnya di atas meja ruang tamu kemudian duduk sambil menghela nafas panjang.
“Eh Anak ibu sudah pulang” sapa sang ibu sambil melepas mukenahnya.
“Iya Bu” jawab Yusuf sambil mencium tangan Ibunya.
“Ibu bingung nih mau kasi hadiah apa di pesta pernikahanmu”, sambil mengusap usap punggung Yusuf
“Ibuuu…”,Yusuf mencoba untuk memberitahu ibunya.
“Aduh, anak ibu yang kemarin jatuh dari sepeda, nangis, panggil panggil ibu, sudah mau nikah minggu depan, jadi Imam”, sambil tersenyum.
“Ibuuu…”, Yusuf mencoba kembali memberitahu ibunya.
“Ibu bangga padamu nak”.
Tiba tiba Yusuf menangis. “Bu, Yusuf tidak jadi nikah Bu, Yusuf tidak mau ngorbanin Ibu, ibu sudah berkorban banyak untuk Yusuf, Yusuf tak bisa Bu”, Yusuf terus menangis.
Tiba tiba Ibunda Yusuf tersenyum.
Annisa pun keluar dari dapur seraya membawa teh hangat untuk Yusuf.
“Kok kamu di sini Nis? Kamu dengar semuanya Nis” Tanya Yusuf heran sambil mengelap air matanya.
“Iya mas, Nisa dengar semuanya. Dan demi Allah, saya tidak akan menikah dengan pria yang tidak menghargai ibunya.” Jawab Annisa.
“Mas belum ngerti dek”, Tanya Yusuf masih heran.
“Mas, persayaratan itu tidak ada dari keluarga Nisa, Nisa minta maaf telah berbuat ini, Nisa hanya ingin tahu seberapa besar cinta Mas ke ibu. Dan setelah mendengar jawaban Mas tadi, Nisa yakin sama Mas, Nisa mau jadi istri Mas.”
“Ibu tahu semua ini? Tanya Yusuf ke Ibunya.
Ibunya hanya tersenyum. 